Caraku Berinteraksi Dengan Gen Z

 

Sejujurnya saya baru punya teman berasal dari gen z itu hanya satu orang saja. Namun semua keponakan saya berasal dari generasi Z.

Ternyata saya baru merasakan punya rekan kerja dan juga keponakan yang berasal dari generasi Z itu beda cara perlakuan.

Pertama-tama saya ingin bercerita tentang rekan kerja perempuan yang berasal dari generasi Z. Sebut saja namanya Dinda. Nah, Dinda ini termasuk tipikal perempuan yang pemalu dan pendiam. Entah kenapa 2 tahun saya bekerja bareng dia, Dinda termasuk introvert banget deh anaknya.

Namun kalau dia sedang berkumpul dengan teman-temannya terlihat Dinda menjadi dirinya sendiri. Saya sih tahunya dari postingan dia di media sosial manakala sedang hang out bersama teman-teman seangkatan di kampusnya dulu.

Dari segi pekerjaan, kinerja Dinda tuh bagus banget bahkan melebihi dari para seniornya. Kebetulan di kantor tempat dulu saya bekerja, 8 orang merupakan generasi milenial, 1 orang dari generasi baby boomers. Hanya Dinda yang berasal dari generasi Z.

Tidak ada yang aneh dengan cara berinteraksi saya dengan Dinda, kecuali dia terlalu tertutup anaknya. Akhirnya saya berusaha mencari topik pembicaraan ketika pertama kali Dinda masuk kerja sebagai karyawan di kantor kami.

Bersyukur saya dan Dinda cukup dekat dalam berinteraksi meskipun hanya sebatas pekerjaan. Sebagai generasi Z, Dinda terlalu tertutup untuk urusan pribadinya. Saya sih menghargai hal tersebut.

Dari interaksi saya di tempat kerja bersama Dinda, saya sedikit menyimpulkan bahwa generasi Z khususnya yang saya temui lebih tertutup membicarakan urusan pribadi. Mereka fokus pada pekerjaan dan hal-hal di luar urusan pribadi.

Justru hal tersebut yang saya sukai, ketimbang kepo dengan urusan hidup orang lain kan. 

Lain halnya ketika saya berinteraksi dengan keponakan yang kebetulan gen Z dan berjenis kelamin laki-laki. Ternyata berinteraksi hampir setiap hari di rumah bersama gen Z itu punya tantangan tersendiri.

Kebetulan keponakan tinggal di rumah untuk berkuliah dan otomatis secara tidak langsung saya menjadi walinya nih di Surabaya.

Keponakan itu tipikal anak yang suka berargumen. Dia tidak akan menelan mentah-mentah instruksi saya sebagai tante, hahaha. Pasti ada pertanyaan kritis yang ditanyakannya terlebih dahulu.

Ya namanya keluarga kadang ada rasa kesal dan saa utarakan kepada Ibunya alias kakak saya. Akhirnya mungkin ibunya menasehati keponakan sehingga dia tidak pernah lagi berargumen ketika saya memberinya perintah. Padahal perintah saya sih standar saja ya, seperti penuhi baskom di tempat cuci piring dengan air.

Selain itu juga keponakan saya punya dunianya sendiri. Dia lebih betah berjam-jam menghadap laptop untuk bermain game daripada harus berbincang-bincang dengan tantenya.

Sebenarnya Dinda pun demikian. Ketika sedang tidak ada kesibukan pekerjaan di kantor, Dinda asyik dengan dunianya, ya bermain HP atau sekadar berselancar di dunia maya. Kalau saya sebagai generasi milenial kan masih suka ngobrol tuh dengan sesama rekan kerja lainnya.

Dinda dan keponakan saya memiliki circle pertemanan juga kok. Layaknya manusia yang merupakan makhluk sosial, Dinda dan keponakan saya juga bergaul dengan teman kuliah. Ketika bulan Ramadan tiba, Dinda dan teman-temannya mengadakan bukber dimana saya mengetahui melalui unggahan story di media sosial Dinda.

Ohya, berbicara mengenai media sosial ada satu hal yang meurut saya aneh, dimana Dinda tidak pernah posting apapun di Instagramnya namun followernya cukup banyak. Apa memang fenomen gen Z seperti itu ya? Hidup privat dan berusaha tampil misterius.

Keponakan saya juga demikian. Tidak ada profil di WhatsApp-nya dan centang biru pun dimatikan. Terkadang sebagai tantenya saya kan sebal ya karena ketika mengirim pesan tidak tahu apakah sudah dibaca atau tidak.

Kalau soal berpetualang, seperti gen Z juara juga nih sebab keponakan saya itu sering banget main ke luar kota bersama teman-temannya untuk naik gunung atau sekadar melihat dunia luar.

Misalnya saja keponakan saya sudah review Bandung lho di usia yang masih belum 25 tahun itu. Saya saja belum pernah eksplora kota Kembang seperti halnya keponakan lakukan.

Dalam urusan berpetualang, menurut saya (mungkin) gen Z lebih berani. Energi gen Z seolah tidak ada habisnya, menurut saya dan itu merupakan kelebihan mereka sih ya.

Mungkin pengalaman menjelajah beberapa kota bisa menjadi pengalaman hidup yang bisa diceritakan oleh keponakan saya kepada orang tua maupun teman-temannya dan hal tersebut bisa jadi merupakan kebanggaan bagi dirinya.

Penutup

Setiap generasi itu ada plus minusnya. Apakah itu generasi baby boomers, generasi X, generasi milenial hingga generasi Z. Cara kita berinteraksi dengan lintas generasi pun berbeda-beda dan tidak bisa dipukul rata semua.

Tidak ada manusia yang sempurna namun sebisa mungkin kita mampu untuk menyesuaikan diri ketika bergaul dengan generasi Z misalnya.


Posting Komentar untuk "Caraku Berinteraksi Dengan Gen Z"